MUI Sebut Pemetaan Masjid Terindikasi Radikalisme Baru Rencana

Pemetaan masjid merupakan bentuk pendekatan humanis atau soft approach untuk mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme. 

Sekretaris Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Wachid Ridwan mengatakan pemetaan (mapping) masjid untuk mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme masih sebatas rencana.

Wachid mengakui banyak kritik yang muncul di publik terkait rencana tersebut. Ia menilai Indonesia merupakan negara demokratis yang segala pemikiran atau paham bisa masuk saat ini.

Wahid menyebut pemetaan masjid merupakan bentuk pendekatan humanis atau soft approach untuk mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme. Bukan dilakukan dengan pendekatan kekerasan.

"Saya anggap wajar saja, agar aparat keamanan tidak perlu pakai hard approach. Tapi soft approach, pakai pendekatan yang lembut saja," kata dia.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan tugas utama pemetaan tersebut bakal diemban oleh MUI, Kementerian Agama dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Polri hanya pelapis dalam rencana pemetaan masjid guna mencegah penyebaran radikalisme di Indonesia.

Rencana pemetaan masjid itu awalnya diungkap Direktur Keamanan Negara Badan Intelijen Keamanan Mabes Polri, Brigjen Umar Effendi pada agenda Halaqah Kebangsaan Optimalisasi Islam Wasathiyah dalam Mencegah Ekstremisme dan Terorisme yang digelar MUI. Upaya itu dilakukan untuk mencegah penyebaran paham terorisme.

Meski demikian, Umar tak merinci masjid mana saja yang masuk dalam pemetaan Polri tersebut. Dia hanya mengatakan ada masjid yang cenderung 'keras'.

"Kemarin kita juga sepakat dalam diskusi mapping masjid, Pak. Mohon maaf," kata Umar dalam disiarkan di kanal YouTube MUI, Rabu (26/1). (antara, cnnindo)


Share: