Media Asing Soroti Kepala Daerah di Indonesia yang Aktif Live di Medsos: Citra dan Rekayasa

Bangkok Post, Salah satu media ternama di Thailand menyoroti fenomena kepala daerah di Indonesia yang sering live di media sosial, terutama kasus Wali Kota Surabaya dan Gubernu Jabar.  


Suarathailand- Sebuah mikrofon menangkap "epok-epok keliling" saat siaran langsung Wali Kota Surabaya, memicu perdebatan tentang pementasan dan keaslian politik. Frasa dalam bahasa Jawa ini berarti "berpura-pura" atau "seolah-olah".

Kamera tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kepemimpinan dalam aksi – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di lapangan, bertemu warga, dan menangani banjir setelah hujan deras. Namun, sebuah mikrofon yang terlupakan menangkap sesuatu yang lain: suara tak dikenal yang mengatakan "epok-epok keliling", dan badai politik pun lahir.

Frasa dalam bahasa Jawa ini berarti "berpura-pura" atau "seolah-olah", berbeda dengan "epok-epok" di Singapura, yang berarti camilan kari. Ungkapan ini terlontar saat siaran langsung di akun resmi Wali Kota pada akhir Oktober, sebelum menjadi viral pada 1 November.

Dalam hitungan jam, audionya tersebar di mana-mana. Tagar #EpokEpokKeliling meroket di TikTok, X, dan Instagram, menarik ribuan tayangan dan memicu debat nasional tentang keaslian dan kinerja politik Indonesia.

Video itu hanya berdurasi beberapa detik. Namun dalam budaya digital di mana setiap frame diteliti, itu sudah cukup. Banyak orang Indonesia menganggap komentar itu sebagai komentar sinis yang menyiratkan bahwa kegiatan wali kota itu direkayasa – "seolah-olah sedang bekerja". Yang lain, yang akrab dengan bahasa gaul lokal, bersikeras bahwa itu hanyalah istilah produksi yang tidak berbahaya untuk "simulasi" atau "pengambilan ulang".

Di negara yang menjunjung tinggi ketulusan dalam kehidupan publik, nuansa itu hampir tidak penting. Kerusakan menyebar lebih cepat daripada klarifikasi apa pun, dengan para kritikus menuduh tim wali kota merekayasa adegan agar terlihat bekerja keras.

Kemudian suara di balik kata-kata itu muncul. Hening Dzikrillah, seorang anggota junior tim media wali kota, dengan berlinang air mata mengumumkan pengunduran dirinya dalam sebuah video pada 2 November, dengan mengatakan: "Ini sepenuhnya kesalahan pribadi saya. Saya mengerti ini telah berdampak signifikan pada wali kota."

Pada bulan Oktober, Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni, menyebutnya sebagai "kesalahan sederhana yang seharusnya tidak mendefinisikan kepemimpinan wali kota". Bapak Eri kemudian menolak pengunduran dirinya.

"Ketika anak muda berbuat salah, jangan hancurkan karakter mereka. Dorong mereka untuk beriman dan bangkit kembali," ujarnya.

Insiden ini mengungkap bagaimana politik di Indonesia telah menyatu dengan kinerja – dan bagaimana, di era digital, persepsi seringkali mengalahkan kebijakan. Di seluruh negeri, para pemimpin daerah telah beralih ke media sosial agar tampak mudah didekati dan berempati. Namun, seiring dengan semakin melek digitalnya masyarakat, skeptisisme mereka pun meningkat.

“Warga internet Indonesia menjadi lebih kritis dan cerdas, dan mereka dapat membedakan antara membangun citra dan apa yang konkret atau autentik.

“Secara umum, penggunaan media sosial sekarang lebih mengutamakan keaslian daripada konten yang dipoles, dan jika kebohongan ditemukan, sanksi sosial dari warga internet bisa sangat keras,” ujar Enda Nasution, konsultan komunikasi di agensi komunikasi Suvarna.ID, kepada The Straits Times.

Indonesia adalah salah satu negara yang paling terhubung secara global, di mana politik, budaya selebritas, dan perdagangan berpadu mulus secara daring. Sebuah survei YouGov yang diterbitkan pada Agustus 2025 menemukan bahwa 81 persen orang Indonesia aktif di media sosial. Generasi Z, mereka yang lahir antara tahun 1997 dan 2012, merupakan 58 persen pendengar podcast harian.

“Dalam lanskap media yang semakin terfragmentasi, konsumsi media merupakan pengalaman yang aktif, emosional, dan sangat generasional,” kata Edward Hutasoit, manajer umum YouGov untuk Indonesia dan India, pada 1 September.

Untuk generasi ini, para pemimpin diharapkan untuk terlihat, spontan, dan manusiawi. Hasilnya adalah Sebuah bentuk politik baru – di mana pidato bersaing dengan klip pendek, dan kredibilitas diukur dari jumlah tayangan.

Hanya sedikit politisi yang menggambarkan hal ini lebih gamblang daripada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Video-videonya – yang memperlihatkan dirinya memediasi perselisihan antar-warga, memberi ceramah kepada warga, atau mengarungi sungai yang kotor – secara rutin menjadi viral. Para pendukung memujinya sebagai seorang reformis yang terjun langsung, sementara para kritikus menepisnya sebagai aktor dalam acara realitasnya sendiri.

Namun Dedi menepis tuduhan bahwa ia hanya berlagak di depan kamera. "Ya, boleh-boleh saja dipanggil apa saja. Yang penting kita tidak boleh sibuk atau takut dipanggil apa saja," ujarnya. "Bagi saya, itu tidak masalah; terima kasih telah berusaha mengarahkan opini sehingga saya tidak disukai warga."

Kehadirannya di media sosial kembali menarik perhatian pada bulan Oktober, ketika ia berselisih secara terbuka dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai dana daerah senilai 234 triliun rupiah (S$18,27 miliar) yang disebut-sebut menganggur di bank.

“Jangan menunggu sampai akhir tahun,” Purbaya memperingatkan. “Gunakan dana ini untuk pembangunan produktif yang segera bermanfaat bagi masyarakat.”

Dedi membalas – bukan melalui siaran pers, melainkan melalui siaran langsung. Ia berargumen bahwa uang itu adalah modal kerja, bukan simpanan menganggur.

“Saya sudah cek, tidak ada simpanan di giro,” ujarnya. “Yang ada adalah 3,8 triliun rupiah di kas daerah dalam bentuk rekening giro. Dana ini sudah digunakan untuk gaji, listrik, perjalanan dinas, dan biaya operasional lainnya.”

Dalam hitungan jam, meme-meme yang menggambarkan perselisihan tersebut membanjiri media sosial – bukti bahwa debat fiskal yang kering pun bisa menjadi viral.

Bahkan tokoh nasional pun tak luput. Dalam sebuah acara kepolisian di Jakarta pada 29 Oktober, Presiden Prabowo Subianto mengakui bahwa ia sering memantau kritik daring.

“Saya sering menonton podcast di malam hari dan terkadang merasa kesal, tetapi saya memperhatikan (kritiknya),” katanya. “Benarkah? Apakah saya benar-benar otoriter? Saya rasa tidak.”

Ia menambahkan, “Kritik itu bagus. Tetapi saya memiliki filosofi bahwa dalam mengabdi kepada bangsa, seseorang tidak boleh didorong oleh rasa dendam.”

Survei yang dilakukan Pusat Studi Ekonomi dan Hukum pada bulan Oktober menemukan tingkat kepercayaan yang rendah terhadap pemerintahannya. Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masing-masing mendapat skor tiga dan dua dari 10, dengan responden mengatakan janji-janji kampanye hanya sebagian terpenuhi.

Mantan presiden Joko Widodo juga menghadapi pengawasan yang berkelanjutan, dengan beberapa orang di masyarakat mempertanyakan keaslian gelar sarjananya.

Di balik layar, "buzzer" – istilah Indonesia yang berarti operator media sosial berbayar atau sukarela – terus membentuk narasi bagi para politisi. Dalam pemilihan presiden 2019, tim Prabowo dilaporkan menggunakan buzzer untuk melembutkan citranya dengan video-video yang memperlihatkan dirinya bercanda dengan para pendukung, sementara kubu rivalnya saat itu, Jokowi, mengandalkan tagar terstruktur dan konten bermerek.

Namun, penelitian menunjukkan bahwa taktik semacam itu kebanyakan memperkuat loyalitas yang sudah ada alih-alih mendapatkan loyalitas baru. Di era politik siaran langsung, visibilitas telah menggantikan persuasi.

Bagi para ahli, kontroversi epok-epok menggarisbawahi semakin rapuhnya kepercayaan publik.

“Kuncinya adalah apa yang berhasil dikomunikasikan melalui media sosial dan berdampak positif juga harus didasarkan pada kebijakan atau tindakan nyata dari para pejabat; tidak bisa hanya mengandalkan debat atau pernyataan di media sosial tanpa tindakan atau kebijakan lanjutan,” kata Enda.

Insiden ini mungkin menghilang dari berita utama, tetapi telah mengungkapkan kebenaran yang lebih besar: Di Indonesia saat ini, kekuasaan tidak hanya terletak pada siapa yang memerintah, tetapi juga pada siapa yang mengendalikan kamera.

Share: