Kematian merupakan bisnis besar di Pantai Gading. Di negara ini, keluarga diharapkan untuk melepas kepergian orang yang mereka cintai melalui perjamuan besar yang diiringi musik, yang memadukan momen sukacita sekaligus kesedihan.
Abijdan, Suarathailand- Valerie Bli Lou, seorang pemilik toko yang berasal dari keluarga sederhana, bertekad untuk memberikan upacara pemakaman yang megah bagi mendiang ayahnya—sesuai dengan tuntutan tradisi setempat—terlepas dari apakah ia mampu membiayainya atau tidak.
Sembari menari sepanjang malam dengan mengenakan tunik berwarna merah anggur dan hitam di acara persemayaman ayahnya di Yopougon—sebuah kawasan kelas pekerja di Abidjan, ibu kota ekonomi Pantai Gading—wanita berusia 60 tahun itu menceritakan betapa sulitnya mengatur dan membiayai penghormatan mewah bagi mendiang ayahnya tersebut.
Kematian merupakan bisnis besar di Pantai Gading. Di negara ini, keluarga diharapkan untuk melepas kepergian orang yang mereka cintai melalui perjamuan besar yang diiringi musik, yang memadukan momen sukacita sekaligus kesedihan.
Bli Lou mengungkapkan bahwa ia telah mengeluarkan lebih dari 2,5 juta franc CFA (US$4.275) untuk rangkaian upacara pemakaman ayahnya—termasuk untuk pembelian tiga ekor sapi. Menurut Bank Dunia, jumlah tersebut lebih dari 15 kali lipat gaji bulanan rata-rata di negara Afrika Barat ini.
Ia menambahkan bahwa masih ada pengeluaran lain yang harus ditanggung, seperti biaya transportasi peti jenazah ke pemakaman yang berjarak 500 kilometer, pembangunan makam, serta penyediaan jamuan makan bagi ratusan tamu yang hadir saat pemakaman.
Bli Lou, yang merupakan seorang penganut Kristen, mengatakan kepada Agence France-Presse (AFP) bahwa ia merasa "bangga" bisa menanggung semua biaya tersebut, meskipun terasa sangat berat.
"Ayah saya seperti Tuhan kedua bagi saya. Saya harus menghormatinya," ujarnya.
Air Mata
Ketika ayah Bli Lou meninggal dunia pada bulan Juli, ia belum memiliki cukup uang untuk menyelenggarakan pemakaman yang sesuai dengan tradisi.
Oleh karena itu, ia melakukan apa yang lazim dilakukan oleh banyak keluarga: membayar biaya penyimpanan jenazah di kamar mayat—dengan tarif sekitar 7.000 franc per hari—sembari mengumpulkan dana yang diperlukan dengan bantuan keluarga dan teman-temannya.
Akhirnya, ia berhasil menyelenggarakan acara persemayaman tersebut di sebuah tempat luas di Yopougon yang memang sering digunakan untuk berbagai upacara pemakaman, tempat di mana banyak pelayat berkumpul setiap hari Sabtu. Keluarga sering kali harus melakukan pemesanan berminggu-minggu sebelumnya.
Pada malam bulan Oktober saat Bli Lou merayakan mendiang ayahnya, pusat kegiatan tersebut menampung empat acara persemayaman sekaligus.
Pihak keluarga menyewa grup musik, mendirikan deretan tenda yang luas, serta menghias ruang persemayaman dengan potret orang-orang terkasih yang telah tiada.
Acara tersebut diwarnai oleh perpaduan antara air mata dan musik, pelukan hangat, serta tarian.
Tekanan
Di acara persemayaman lain, seorang disjoki (DJ) membacakan nama-nama pihak yang telah memberikan sumbangan uang atau bantuan lain untuk upacara tersebut.
Pihak keluarga mengungkapkan bahwa mereka telah mengeluarkan total biaya lebih dari lima juta franc, dengan mewajibkan setiap kerabat untuk memberikan kontribusi.
Beberapa orang bahkan harus berutang demi mendapatkan uang tersebut.
"Ada tekanan yang besar," ujar salah satu anggota keluarga, Mathias Zouh.
"Orang tua dan kakek-nenek kami melakukannya, jadi kami pun ikut melakukannya. Jika tidak, nama Anda akan dipandang buruk di desa."
Menurut antropolog Leo Montaz, yang telah mendalami topik ini, pemakaman dianggap sangat penting dalam beberapa komunitas di Pantai Gading hingga memicu persaingan dan rivalitas antar keluarga.
"Setiap orang ingin menunjukkan betapa pentingnya diri mereka dan menegaskan kembali status sosial mereka," katanya.
Bagi umat Muslim—kelompok agama besar lainnya di Pantai Gading—upacara pemakaman harus dilaksanakan lebih cepat; namun, rangkaian prosesi yang menyertainya sering kali tetap memakan biaya besar.
Pentingnya ritual pemakaman telah melahirkan industri yang berkembang pesat di negara tersebut.
Di Yopougon, terdapat toko-toko yang menjual peti mati, pakaian untuk pemakaman, bunga tiruan, batu nisan, perhiasan, serta wewangian untuk jenazah.
Gertrude Brou telah berkecimpung dalam industri ini selama 15 tahun, menjual perlengkapan pemakaman sekaligus merias jenazah.
"Ada kebutuhan akan layanan pemakaman, dan ini adalah pekerjaan yang menjanjikan penghasilan yang baik," ujarnya.
Rekan kerjanya, Georges, sependapat. Ia menuturkan bahwa berkat usaha jasa pemakamannya, ia mampu membangun rumah dan menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri.
"Ini adalah profesi yang sangat berkembang," katanya.




