Sejak Oktober 2023, militer Israel telah menewaskan lebih dari 74.000 orang dan melukai lebih dari 175.000 lainnya dalam perang genosida yang juga telah meluluhlantakkan seluruh Jalur Gaza.
Gaza, Suarathailand- Israel telah melakukan 5.147 pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata Gaza yang berlaku sejak 10 Oktober 2025, yang menewaskan 1.421 warga Palestina. Demikian disampaikan oleh Kantor Media Pemerintah pada hari Selasa, seraya memperingatkan akan adanya bencana kemanusiaan yang mengancam di tengah mendekatnya musim dingin.
"Kondisi kemanusiaan dan penyaluran bantuan di Jalur Gaza telah menjadi berbahaya dan membawa dampak bencana, sehingga membuat ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi menghadapi risiko yang mengancam nyawa," ungkap kantor tersebut dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dilaporkan kantor berita Anadolu.
Pihaknya menepis klaim Israel yang menyatakan bahwa pasokan dalam jumlah memadai telah diizinkan masuk ke Gaza, dengan menyebut klaim tersebut "menyesatkan".
"Israel hanya mengizinkan 35% dari jumlah truk yang disepakati—yang mengangkut bantuan kemanusiaan serta material rekonstruksi—untuk masuk ke wilayah tersebut," ujar kantor itu, seraya menambahkan, "Hanya 72.826 truk yang diizinkan masuk dari total 210.600 truk bantuan kemanusiaan dan pengangkut material rekonstruksi yang seharusnya masuk berdasarkan perjanjian."
"Hanya 13.785 orang yang dapat keluar atau masuk ke wilayah tersebut dari 35.000 orang yang diperkirakan akan melakukan perjalanan; angka ini menunjukkan tingkat kepatuhan tidak lebih dari 39%," kata kantor tersebut.
Pada hari Senin, citra terbaru di Google Maps memperlihatkan perubahan drastis pada lanskap perkotaan Gaza, di mana kerusakan tidak hanya terjadi pada bangunan-bangunan individual tetapi juga mencakup seluruh blok permukiman, menyisakan area kosong yang luas di lokasi yang dulunya merupakan kawasan padat penduduk.
Sebuah penilaian satelit terkini oleh Pusat Satelit PBB (UNOSAT) menemukan bahwa lebih dari 201.000 bangunan—setara dengan 82% dari seluruh struktur bangunan di Jalur Gaza—mengalami kerusakan.
Banyak warga Palestina yang masih tinggal di tenda, tempat penampungan sementara, atau bangunan yang rusak di tengah kelangkaan material hunian dan kesulitan memperbaiki rumah menjelang musim hujan.
PBB memperkirakan bahwa 1,98 juta warga Palestina di Gaza membutuhkan bantuan terkait hunian, dari total populasi sekitar 2,1 juta jiwa.
Layanan dasar juga masih berada dalam kondisi sangat tertekan. PBB memperkirakan bahwa 91% rumah tangga yang tercakup dalam penilaian terkini menghadapi kerawanan air tingkat sedang hingga parah, sementara sektor kesehatan terus beroperasi dengan kapasitas terbatas akibat kerusakan rumah sakit serta kekurangan peralatan dan pasokan.
Upaya pemulihan terus berlangsung meskipun masih terdapat dampak berkepanjangan akibat perang dan adanya laporan korban jiwa setelah gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.
Sejak Oktober 2023, militer Israel telah menewaskan lebih dari 74.000 orang dan melukai lebih dari 175.000 lainnya dalam perang genosida yang juga telah meluluhlantakkan seluruh Jalur Gaza.
Pada bulan Agustus, sebuah komite independen Palestina yang bertugas mengelola urusan Gaza mengadakan pertemuan dengan badan-badan PBB untuk mengoordinasikan rencana pemulihan awal dan mengidentifikasi intervensi prioritas, sebagai bagian dari upaya transisi dari respons kemanusiaan darurat menuju pemulihan layanan dan pembangunan kembali wilayah tersebut.




