Iran Sebut Sistem Pertahanan Udaranya Tembak Jatuh 200 Lebih Drone AS-Israel

Perang 12 hari yang dipaksakan itu menjadi ajang uji coba nyata bagi pertahanan udara Iran untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahannya.


Teheran, Suarathailand- Farasnews melaporkan Konflik bersenjata selama 40 hari yang dipaksakan oleh Amerika Serikat dan rezim Israel baru-baru ini menunjukkan bahwa pertahanan udara Iran—dengan memanfaatkan pengalaman dari perang 12 hari sebelumnya—telah meningkatkan kemampuan operasionalnya melalui penyempurnaan taktik, perubahan pola penempatan, dan pengembangan sistem pertahanan baru.

Menyusul pengalaman perang 12 hari tersebut, pertahanan udara Iran tidak hanya berfokus pada pembangunan kembali dan penggantian peralatan. Sebaliknya, mereka meningkatkan kemampuan operasional melalui penyesuaian taktis, perubahan pola penempatan, dan pengembangan sistem baru.

Brigadir Jenderal Alireza Elhami, komandan Markas Besar Gabungan Pertahanan Udara Iran, merujuk pada kinerja pasukan pertahanan udara selama perang baru-baru ini, menyatakan bahwa pasukan pertahanan tersebut berhasil menghancurkan lebih dari 200 pesawat nirawak (drone) dan pesawat musuh menggunakan sistem-sistem canggih.

Dibandingkan dengan pengalaman perang 12 hari tersebut, angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan pertahanan udara Iran.

Perang 12 hari yang dipaksakan itu menjadi ajang uji coba nyata bagi pertahanan udara Iran untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahannya.

Hal yang terjadi di antara kedua perang tersebut adalah transformasi pengalaman medan tempur menjadi perubahan taktik, pengembangan sistem, pola penempatan, dan konfigurasi keseluruhan jaringan pertahanan udara.

Dalam peperangan udara modern, memiliki sistem yang tangguh saja tidaklah cukup. Jaringan radar, sistem rudal, kemampuan peperangan elektronik, sistem komando dan kendali, serta peralatan pengintaian harus beroperasi secara terintegrasi.

Elhami sebelumnya telah menegaskan bahwa keberhasilan pertahanan udara dalam mencegat drone canggih merupakan hasil kinerja dari "jaringan pertahanan udara yang terintegrasi dan cerdas."

Dalam situasi demikian, peningkatan kemampuan pertahanan udara Iran perlu dipandang dari dua sisi: pertama, peningkatan kemampuan peralatan dan sistem yang dikembangkan di dalam negeri; dan kedua, perbaikan dalam cara sistem-sistem tersebut digunakan di medan tempur.

Pengalaman perang 12 hari menunjukkan bahwa musuh berupaya menciptakan celah dalam jaringan pertahanan Iran dengan menggunakan teknologi pengintaian, drone canggih, dan peperangan elektronik. 

Menghadapi ancaman semacam itu menuntut adanya jaringan pertahanan yang mobile, berlapis, dan cerdas. Mungkin perbedaan paling penting antara perang baru-baru ini dan perang 12 hari yang dipaksakan tersebut terletak pada kecepatan sistem pertahanan udara Iran dalam belajar dan beradaptasi. 

Dengan kata lain, pengalaman yang diperoleh dari satu konflik dengan cepat diwujudkan dalam bentuk perubahan pada peralatan, taktik, dan penempatan pertahanan.

Pada akhirnya, penghancuran lebih dari 200 target tidak boleh dipandang sekadar sebagai statistik. Angka tersebut justru merupakan indikasi adanya perubahan kualitatif dalam kinerja pertahanan udara Iran di antara kedua konflik tersebut, serta langkahnya menuju jaringan pertahanan yang lebih cerdas, fleksibel, dan adaptif.

Share: