“Operasi militer defensif kami akan terus berlanjut selama agresi masih berlangsung. Tidak seorang pun boleh mengharapkan Iran untuk tetap diam dalam menghadapi agresi.”
PBB, Suarathailand- Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Ali Bahreini, menegaskan kembali bahwa tidak ada yang dapat mengharapkan Iran untuk tetap diam terhadap pelanggaran kedaulatannya, menyusul agresi AS-Israel baru-baru ini terhadap negara tersebut.
Pada konferensi pers di sela-sela pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bahreini mengutuk "agresi bersenjata dan ilegal AS-Israel" terhadap Republik Islam, menyebutnya sebagai pelanggaran nyata terhadap Pasal 2(4) Piagam PBB dan pelanggaran mencolok terhadap larangan penggunaan kekerasan.
Ia menambahkan bahwa Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, yang dibunuh dalam serangan yang disengaja dan direncanakan sebelumnya oleh Amerika Serikat dan Israel, bukan hanya otoritas politik tertinggi di Iran tetapi juga seorang pemimpin agama dan spiritual terkemuka di dunia Islam.
“Tindakan melanggar hukum berupa pembunuhan pejabat pemerintah berpangkat tinggi selama tindakan agresi ilegal, pada bentuk awalnya, merupakan serangan langsung terhadap tatanan hukum internasional dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional,” lanjut duta besar Iran tersebut.
Ia mencatat bahwa sikap diam atau persetujuan terhadap perilaku tersebut sangat merusak fondasi hukum internasional.
Ia menekankan bahwa tindakan agresi yang melanggar hukum dan tidak dapat dibenarkan ini terjadi pada saat Iran sedang bernegosiasi dengan itikad baik dengan Amerika Serikat mengenai program nuklir damainya, untuk mencari hasil yang menguntungkan kedua belah pihak.
“Operasi militer defensif kami akan terus berlanjut selama agresi masih berlangsung. Tidak seorang pun boleh mengharapkan Iran untuk tetap diam dalam menghadapi agresi,” tambahnya.
Iran tidak pernah menyerang wilayah negara-negara tetangganya yang Islami, bersahabat, dan bersaudara, dan tidak akan melakukannya, katanya, menambahkan bahwa rencana jahat AS dan Israel telah membawa kawasan ini ke keadaan seperti sekarang.
Rezim di Washington dan Tel Aviv memulai serangan militer tanpa provokasi pada 28 Februari. Sejauh ini, setidaknya 555 warga Iran telah tewas dalam serangan udara teroris tersebut.
Iran mulai dengan cepat membalas agresi kriminal tersebut dengan melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah yang diduduki Israel serta pangkalan-pangkalan AS di negara-negara regional.




