Ini KRI Singa 651 Buatan PT PAL, Kapal Perang Canggih Anti Kapal Selam

Tim Basarnas Bali melibatkan TNI AL untuk membantu mencari korban hilang KM Liberty 1 yang tenggelam.

TNI AL lantas mengerahkan KRI Singa 651". KRI Singa 651 untuk bergabung dengan SAR mencari korban KM Liberty 1 yang mengalami kecelakaan laut pada Sabtu 23 Oktober 2021 lalu sekitar pukul 22.07 WITA.

Kapal jenis Chargo berbendera Indonesia yang membawa 15 orang ABK dihantam badai di Perairan Utara Bali yang menyebabkan kapal tenggelam, sementara 6 orang ABK berhasil selamat.

Dilansir dari Antara News dan laman TNI AL, dalam pelaksanaan SAR, dua orang berhasil ditemukan kapal chargo SPOB Seroja 01 dalam kondisi 1 selamat dan 1 meninggal.

Sedangkan 7 orang sisanya sampai saat ini masih dalam proses pencarian.

Sebelumnya diketahui, bahwa KM Liberty 1 lepas sandar dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada Jumat 22 Oktober pukul 00.07 WIB dini hari menuju Reo Flores NTT.

Namun pada Sabtu 23 Okober 2021 pukul 22.07 WITA, kapal yang berjenis cargo ni tenggelam karena dihantam badai di perairan utara Bali.

Pada Kamis 29 Oktober 2021, KRI Singa 651 menemukan tumpahan minya berjarak sekitar 25 NM arah barat daya dari lokasi Life Jacket dan logistik yang dicurigai sebagai bagian dari KM Liberty 1.

Pada Jumat 29 Oktober 2021, TNI AL kembali mendukung kegiatan SAR dengan mengerahkan KRI Singa 651.

Menilik kecanggihan kapal milik TNI AL tersebut, KRI Singa 651 berada di bawah jajaran Satuan Kapal Cepat (Satkat) Koarmatim, memiliki kemampuan tempur Anti Kapal Selam (AKS).

Dilansir Zonajakarta.com dari laman tni.mil.id, Kapal Perang jenis Fast Patrol Boat (FPB) itu merupakan salah satu produksi dalam negeri PT PAL Indonesia yang bermarkas di Ujung Surabaya.

KRI Singa 651 diserahkan ke TNI AL pada tahun 21 April 1988 dengan Komandan pertama dijabat oleh Letkol Laut (P) T.H. Lubis.

Meski dibuat industri maritim dalam negeri, namun kemampuan tempur FPB  PT PAL ini tidak kalah dengan kapal-kapal buatan negara asing.

FPB PT PAL ini dilengkapi dengan sistem penginderaan berupa radar berteknologi canggih dan senjata yang ditakuti lawan bawah air yaitu Kapal Selam.

Kapal Cepat Rudal (KCR) itu didukung oleh dua Mesin Turbin (MTU) buatan Jerman sebagai mesin pendorong pokok.

Kedua mesin turbin tersebut dapat mendukung manuver kapal untuk melajut dengan kecepatan maksimal hingga 29 knot di atas permukaan air.

Hal itu memungkinkan bagi KRI Singa 651 untuk melakukan serangan mendadak terhadap garis depan pertahanan lawan dan segera menghindari dari jangkauan senjata musuh.

Senjata pamungkas yang dimilki KRI Singa 651 di antaranya Meriam Bofors kaliber 57 dan 40 mm buatan Swedia, Meriam Rheinmetal kaliber 20 mm buatan Jerman serta diperkuat dengan senjata AKS Torpedo SUT buatan AEG Telefunken Jerman.

Persenjataan tersebut terintegrasi dengan sensor radar permukaan dan bawah air yaitu Radar Navigasi Raytheon Marine buatan Amerika Serikat serta Sonar Bawah Air berupa Sonar Control Console buatan HAS Belanda.

Saat ini KRI Singa 651 diawaki sekitar 42-53 personel dengan Komandan Letkol Laut (P) Andi Kristianto. (zonajakarta)

Share: