Daging kurban sebaiknya daging langsung direbus tanpa dicuci dulu hingga mendidih selama 15 menit.
Akademisi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember Riska Rian Fauziah PhD mengubgkap sejumlah tips cara aman mengonsumsi daging kurban di tengah maraknya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).
Riska mengatakan mengonsumsi daging dan susu sapi aman selama proses memasaknya sudah benar.
Riska mengatakan pada umumnya masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim melaksanakan ibadah kurban dengan menyembelih sapi, kambing, atau domba pada hari raya Idul Adha.
Berdasarkan Badan Kesehatan Hewan Dunia, PMK atau Foot and Mouth Disease (FMD) adalah penyakit yang meyerang hewan berkaki belah seperti sapi, kambing, domba, kerbau, dan babi yang disebabkan oleh Apthovirus, yang merupakan virus RNA.
Penyakit itu utamanya akan menyebabkan luka pada bagian mulut dan kuku ternak. Virus tersebut juga bisa bertahan di dalam kelanjar getah bening, tulang, kelenjar susu, dan organ visceral pada ternak yang terinfeksi.
PMK bisa menular sangat cepat antarternak, bisa melalui kontak langsung ataupun ditularkan melalui udara. Meskipun penyakit itu mudah menular antarternak, namun sampai saat ini tidak ada laporan yang menyebutkan PMK bisa menular pada manusia karena bukanlah zoonosis atau penyakit yang bisa ditularkan dari hewan kepada manusia.
"Aphtovirus itu akan mati pada suhu 70 derajat celcius. Apabila membeli daging atau mendapat pembagian daging kurban, sebaiknya daging langsung direbus tanpa dicuci dulu hingga mendidih selama 15 menit (pre-heating) dan plastik/pembungkus disiram dengan detergen terlebih dahulu sebelum dibuang," katanya.
Riska menjelaskan, daging yang telah dilakukan pre-heating bisa dicuci dan diolah sesuai selera. Jika ternak yang disembelih terinfeksi PMK sebaiknya bagian kaki dan mulut (cingur) tidak dikonsumsi. Sebelum dibuang dibakar terlebih dahulu agar virusnya mati dan tidak menyebar ke lingkungan. (antara)




