Bareskrim Polri menyebut para tersangka dapat menghadapi tuntutan dengan ancaman hukuman mulai dari denda besar hingga penjara hingga 15 tahun.
Jakarta, Suarathailand- Polisi Indonesia pada hari Minggu (23 Agustus) menangkap 72 orang yang diduga memicu kebakaran hutan dan lahan gambut, di tengah kobaran api besar di wilayah tengah dan barat negara itu yang menyebabkan kabut asap pekat dan menyesakkan.

Indonesia sedang berjuang mengatasi kebakaran yang dipicu oleh pola El Nino yang menguat dan musim kemarau panjang, yang menghasilkan asap tebal hingga melintasi batas negara ke Malaysia, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia.
Kebakaran merupakan masalah rutin di Indonesia yang membebani hubungan dengan negara-negara tetangga.
Pemilik perkebunan dan petani tradisional sering kali menyulut api untuk membuka lahan pertanian, kata Mohammad Irhamni, Direktur Tindak Pidana Tertentu di Bareskrim Polri.
Para tersangka pembakaran tersebut sedang diperiksa terkait dengan 89 kasus kebakaran hutan dan lahan di lima provinsi di Pulau Kalimantan dan empat provinsi di Sumatra, ujar Irhamni.
Ia mengatakan sebagian besar tersangka dituduh sengaja membakar lahan untuk membuka area perkebunan dengan biaya lebih murah.
Penyidik masih menelusuri catatan keuangan untuk menentukan apakah ada perusahaan yang mendanai atau memerintahkan pembukaan lahan tersebut, yang mengindikasikan bahwa penyelidikan bisa meluas hingga mencakup pihak lain di luar mereka yang telah ditangkap.
"Kami tidak akan berhenti pada pelaku di lapangan saja," kata Irhamni dalam konferensi pers di Jakarta.
"Kami akan menentukan siapa yang diuntungkan dari kegiatan ini dan siapa yang sebenarnya berada di baliknya."
Para tersangka menghadapi tuntutan dengan ancaman hukuman mulai dari denda besar hingga penjara hingga 15 tahun, ujarnya.
Presiden Indonesia Prabowo Subianto terbang pada hari Sabtu ke Provinsi Kalimantan Tengah—di mana lebih dari 7.600 hektare lahan telah terbakar—untuk mendorong aparat agar segera mengendalikan kabut asap tersebut.
Prabowo menjanjikan sumber daya pemerintah yang diperlukan untuk memadamkan kebakaran, termasuk helikopter dan pompa air, serta berjanji akan meminta pertanggungjawaban perusahaan mana pun yang terbukti berkontribusi terhadap kebakaran tersebut.
"Saya berharap kita bisa segera mengendalikan situasi ini," kata Prabowo saat kunjungan tersebut.
"Kita pernah mengalami kebakaran hutan dan lahan yang lebih parah di masa lalu, dan kita berhasil mengatasinya." Presiden didampingi oleh Kepala Sekretariat Negara, Prasetyo Hadi.
Ia menyatakan bahwa setidaknya empat perusahaan di Provinsi Kalimantan Barat sedang diselidiki karena diduga menggunakan metode pembakaran untuk pembukaan lahan. Jika terbukti sengaja melakukan pembakaran, perusahaan-perusahaan tersebut dapat dikenai sanksi, termasuk pencabutan izin operasional, tambahnya.
Sebuah helikopter menjatuhkan air ke hutan dan lahan yang terbakar di kawasan Petuk Katimpun, Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia, pada 13 Agustus 2026. (Foto: AFP/Reina)
Asap akibat kebakaran pada hari Minggu menyelimuti sebagian wilayah Kalimantan, pulau terbesar ketiga di dunia yang wilayahnya dibagi antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Indonesia mengelola sekitar tiga perempat wilayah pulau tersebut, di mana Kementerian Lingkungan Hidup mencatat lebih dari 3.700 titik panas pada hari Minggu.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan bahwa aktivitas kebakaran meningkat di Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Di wilayah ini, banyak kebakaran menjadi lebih parah akibat kondisi lahan gambut, sehingga memperpanjang durasi kabut asap berbahaya di beberapa daerah.
Kebakaran yang tampak "padam di permukaan mungkin masih menyimpan bara api di bagian bawahnya, sehingga curah hujan yang cukup sangat penting untuk membasahi kembali lahan gambut dan memadamkan api sepenuhnya," ujar Suharyanto, yang—seperti banyak orang Indonesia lainnya—hanya menggunakan satu nama.
Pulau Sumatra di bagian barat juga menghadapi kebakaran, dengan lebih dari 1.700 titik panas terdeteksi pada hari Minggu. Hal ini menyebabkan kabut asap dan mengurangi jarak pandang hingga hanya 10 meter di beberapa wilayah, menurut keterangan kementerian tersebut.
Operasi teknologi modifikasi cuaca (penyemaian awan) kembali dilakukan di wilayah Kalimantan pada hari Minggu, dengan pengerahan 30 helikopter untuk misi pengeboman air (*water-bombing*) dan patroli udara, sementara 22 helikopter lainnya dikerahkan untuk wilayah Sumatra.
Sementara itu, Malaysia terdampak parah oleh asap akibat kebakaran tersebut, dengan negara bagian Sarawak di wilayah timur menjadi salah satu yang paling parah terkena dampaknya. Pemerintah Sarawak melaporkan bahwa satu distrik mencatat kualitas udara "sangat tidak sehat" pada hari Jumat, sementara delapan distrik lainnya mencatat tingkat kualitas udara "tidak sehat". Kondisi ini memicu penutupan hampir 600 sekolah dan berdampak pada sekitar 200.000 siswa.




