"Vaksin Baiya" ini diproduksi dari daun tembakau.
Thailand akan memulai uji coba vaksin Covid-19 berbasis tanaman dalam negeri. Uji coba pada manusia ini akan dilakukan pada September mendatang. Vaksin ini diharapkan siap untuk warga Thailand tahun depan.
Vaksin subunit yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Vaksin Universitas Chulalongkorn dan Baiya Phytopharm Co. Ltd. (Baiya Phytopharm).
Wakil Perdana Menteri dan Menteri Kesehatan Masyarakat, Anutin Charnvirakul mengatakan total 100 sukarelawan akan bergabung untuk uji klinis pertama vaksin.
Dia mengatakan para sukarelawan akan diberikan tiga dosis berbeda - 10, 50 dan 100 mikrogram kandidat vaksin untuk menentukan dosis efektif yang tepat untuk orang dewasa.
Dia mengatakan studi pra-klinis pada tikus dan monyet menemukan kandidat vaksin sangat efektif dalam meningkatkan kekebalan hewan.
"Jika uji coba pada manusia berhasil, vaksin akan siap untuk orang Thailand tahun depan.
"Para peneliti sedang mengujinya terhadap 10 varian. Jika penelitian ini berhasil, kami mungkin memiliki sesuatu yang mirip dengan vaksin flu yang dapat melindungi dari beberapa jenis," katanya mengutip Bangkok Post.
Dalam siaran pers, Universitas Chulalongkorn mengatakan "Vaksin Baiya" diproduksi dari daun tanaman, oleh Baiya Phytofarm dan menggunakan daun tembakau pusaka dari Australia untuk berfungsi sebagai bahan genetik non-patogen virus.
Chief Executive Officer dan salah satu pendiri Baiya Phytofarm Asst. Prof Dr Sutheera Dejkhunnavuth mengatakan Vaksin Baiya terhadap COVID-19 merupakan vaksin subunit yang sudah lama diproduksi di negara lain menggunakan tanaman. Sedangkan beberapa negara seperti Kanada dan Korea Selatan menggunakan daun tanaman.
“Vaksin ini menggunakan daun tembakau pusaka dari Australia yang berfungsi sebagai bahan genetik virus non-patogen. Ketika disuntikkan ke dalam tubuh, vaksin akan meningkatkan kekebalan tubuh kita untuk melawan infeksi,” kata Dr Sutheera.
“Vaksin Baiya” merupakan karya dua peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Chulalongkorn yakni Suthira Taychakhoonavudh dan Waranyoo Phoolcharoen.
Suthira mengatakan vaksin itu diharapkan siap pada pertengahan tahun depan dengan harga 300 hingga 500 baht per dosis.
Selain "Vaksin Baiya", para peneliti Universitas Chulalongkorn telah mengembangkan vaksin COVID-19 termasuk ChulaCov19, vaksin mRNA yang melakukan uji klinis fase pertama pada Juni. (Bernama)




