Guru Agama Islam Meninggal dalam Serangan Bom Mobil di Yala Thailand

Penyelidikan awal menunjukkan bahwa sedikitnya 10 orang terlibat dalam mengatur pengeboman ini.

Polisi di Yala melakukan perombakan personel setelah bom mobil menewaskan satu orang dan melukai 34 orang


Kepolisian Thailand melakukan perombakan besar-besaran personel polisi setelah serangan bom mobil di flat polisi Bannang Sata di provinsi Yala. Akibat serangan ini satu orang tewas dan 34 orang lainnya terluka.

Kolonel Polisi Ranon Surawit telah dipindahkan ke Divisi Investigasi Provinsi Perbatasan Selatan sebagai pelaksana tugas pengawas. Sebagai gantinya, Pol. Kol. Phrompat Sanitsri akan mengambil alih sebagai pelaksana tugas pengawas di kantor polisi Bannang Sata.

Keputusan untuk mutasi ini dibuat oleh Letnan Jenderal Polisi Piyawat Chaloemsi, komisaris Wilayah Kepolisian Provinsi 9, yang mengawasi provinsi perbatasan selatan. Langkah ini merupakan bagian dari beberapa pengumuman yang dibuat kemarin, 5 Juli, untuk mengatasi dampak dari pengeboman tersebut.

Serangan bom mobil tersebut merenggut nyawa Rokiyoh Sarana, seorang guru agama Islam perempuan berusia 45 tahun. Selain kematiannya, 34 orang lainnya, termasuk polisi, wanita, dan anak-anak, mengalami luka-luka akibat ledakan tersebut.

Polisi telah memberikan dukungan finansial kepada keluarga korban. Lebih jauh, dua tersangka telah ditangkap: Mustafa Malae yang berusia 27 tahun, yang bekerja sebagai asisten insinyur sipil di Organisasi Administratif Kecamatan Than To, dan Maropee Hama yang berusia 45 tahun, warga Than To.

Penyelidikan awal menunjukkan bahwa sedikitnya 10 orang terlibat dalam mengatur pengeboman tersebut. Polisi sedang mengejar tersangka yang tersisa.

Polisi menahan seorang asisten teknik sipil untuk diinterogasi terkait ledakan bom mobil di luar flat polisi di Bannang Sata, Yala. Insiden ini terjadi pada 30 Juni.

Unit Operasi Khusus Gabungan di Yala, bersama dengan badan keamanan setempat mempercepat prosedur investigasi mereka untuk melacak tersangka yang terkait dengan serangan bom mobil di luar flat polisi.

Operasi gabungan mengidentifikasi kendaraan yang digunakan dalam pengeboman sebagai mobil pemerintah milik organisasi administratif setempat. Investigasi lebih lanjut mengungkap seorang tersangka yang terkait dengan kendaraan tersebut.

Tersangka, yang diidentifikasi sebagai Mustofa berusia 27 tahun dari Thanto, Yala, adalah asisten teknik sipil di organisasi administratif setempat.

Pemeriksaan awal terhadap Mustofa mengungkapkan ia adalah orang terakhir yang menggunakan kendaraan tersebut. Setelah itu, Maropi, 45 tahun, dari Narathiwat, menghubungi Mustofa, menanyakan tentang kunci mobil. Mustofa melaporkan bahwa Maropi adalah orang terakhir yang meninggalkan kantor administrasi setempat.

Polisi saat ini sedang memverifikasi informasi dan melacak Maropi untuk mengumpulkan informasi lebih rinci mengenai insiden tersebut.

Komando Operasi Keamanan Internal Wilayah 4 menginstruksikan para pejabat untuk berkomunikasi dengan jelas dan membangun pemahaman tentang prosedur mereka. Mereka menekankan perlunya transparansi, keadilan, dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip hak asasi manusia.

Baru-baru ini, para pejabat membawa Mustofa ke pusat interogasi di Satgas Resimen Ranger ke-41 untuk pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut, lapor KhaoSod.

Komando Operasi Keamanan Dalam Negeri Wilayah 4 juga meminta kerja sama masyarakat untuk melaporkan segala aktivitas mencurigakan di area tersebut, sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa mereka yang mendukung pelaku kejahatan, seperti menyembunyikannya, menyediakan tempat berteduh, atau menyediakan makanan, akan menghadapi konsekuensi hukum berdasarkan Pasal 189 KUHP.

Share: