Penipuan online berbasis di Kamboja telah menyebabkan kerugian luas bagi para korban di seluruh dunia.
Bangkok, Suarathailand- Ketegangan antara Thailand dan Kamboja terus meningkat, karena kedua negara terlibat dalam manuver diplomatik terkait sengketa perbatasan dan penipuan online.
Konflik meningkat pada 16 Februari 2026 ketika pihak berwenang Thailand melaporkan peningkatan aktivitas militer dari Kamboja dekat perbatasan di Ubon Ratchathani, mendorong pasukan Thailand untuk meningkatkan pertahanan dan memantau situasi dengan cermat.
Permasalahan ini kini telah meluas melampaui klaim teritorial dan mencakup tuduhan terkait penipuan online ilegal yang dilaporkan berasal dari Kamboja, dimana Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow secara aktif berbicara kepada komunitas internasional untuk membela pendirian Thailand.
Konflik Perbatasan dan Kehadiran Militer
Di lapangan, Wilayah Angkatan Darat Kedua telah melaporkan pergerakan signifikan dari pasukan Kamboja, khususnya di daerah 745 Hill di Ubon Ratchathani, di mana hampir 10.000 tentara telah dikerahkan.
Selain itu, kebakaran hutan yang sedang berlangsung di sisi perbatasan Kamboja menimbulkan risiko lebih lanjut, dengan asap yang mengancam akan menyebar ke pangkalan militer Thailand di wilayah seperti Ubon Ratchathani, Surin, dan Si Sa Ket.
Sebagai tanggapan, unit militer Thailand telah membangun penghalang api di sekitar daerah yang terkena dampak dan berupaya menyelidiki apakah kebakaran tersebut sengaja dilakukan untuk tujuan pertanian atau militer.
Keterlibatan Diplomatik dan Tanggapan Internasional
Di tingkat internasional, Sihasak dijadwalkan melakukan perjalanan ke Prancis untuk bertemu dengan Direktur Jenderal UNESCO. Kunjungannya akan berpusat pada diskusi mengenai dokumentasi sejarah dan data teknis terkait perbatasan Thailand-Kamboja.
Selain itu, beliau akan menghadiri sesi tingkat tinggi Dewan Hak Asasi Manusia PBB (HRC) di Jenewa pada tanggal 23-25 Februari 2026, di mana beliau akan membahas masalah penipuan online yang lebih luas dan dampaknya terhadap hak asasi manusia.
Tuduhan Penipuan Online
Salah satu elemen kunci dari konflik diplomatik yang sedang berlangsung adalah tuduhan Kamboja bahwa tindakan Thailand di sepanjang perbatasan merupakan pelanggaran teritorial. Kamboja mengklaim bahwa penggunaan kontainer dan kawat berduri oleh Thailand telah menyebabkan terbatasnya pergerakan warga Kamboja di dekat perbatasan.

Dalam upaya untuk mendukung klaim ini, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet juga mengangkat masalah ini ke platform internasional, menuduh Thailand melanggar batas tanah Kamboja.
Namun, Sihasak mengalihkan pembicaraan kembali ke isu penipuan online, yang telah menyebabkan kerugian luas bagi para korban di seluruh dunia. Menyoroti semakin banyaknya operasi penipuan online yang berbasis di Kamboja,
Sihasak menunjukkan bahwa aktivitas ini telah menyebabkan kerugian fisik, emosional, dan finansial yang signifikan pada individu di seluruh dunia. Dia menekankan bahwa tindakan Thailand didasarkan pada hukum internasional dan prinsip hak asasi manusia.
Pergeseran Narasi
Penekanan Thailand terhadap masalah global penipuan online telah mendapat dukungan dari beberapa negara yang terkena dampak masalah serupa. Ketika pernyataan Sihasak menjadi pusat perhatian di Dewan Hak Asasi Manusia PBB, menjadi jelas bahwa Thailand berhasil menggunakan krisis penipuan online untuk memperkuat posisinya dan menangkis kritik terhadap tindakan perbatasannya. Dorongan diplomasinya ditujukan untuk mengalihkan perhatian dari sengketa wilayah Kamboja-Thailand dan menuju kerugian luas yang disebabkan oleh penipuan online, yang telah menjadi perhatian internasional.
Pada saat yang sama, Sihasak diperkirakan akan bertemu dengan para pejabat PBB untuk membahas kerja sama yang sedang berlangsung dan peran Thailand dalam perlindungan hak asasi manusia selama sesi HRC PBB mendatang. Beliau juga akan menyoroti kepemimpinan Thailand dalam menjadi tuan rumah Konferensi Internasional tentang Kemitraan Global melawan Penipuan Online, yang berlangsung pada bulan Desember 2025 dalam kemitraan dengan UNODC.
Pesan Sihasak jelas: Thailand akan terus mempertahankan integritas teritorialnya, namun juga akan memimpin upaya internasional untuk mengatasi krisis penipuan online, dengan menunjukkan komitmen negara tersebut terhadap hak asasi manusia dan keamanan global.
Implikasi Lebih Luas
Seiring berkembangnya situasi, upaya diplomasi dan tuduhan terhadap Hun Manet kemungkinan akan terus meningkat. Sementara itu, strategi Sihasak yang berfokus pada isu-isu penipuan online global dapat melemahkan posisi Kamboja, karena hal ini menarik lebih banyak perhatian internasional terhadap dampak buruk penipuan.
Sengketa perbatasan Thailand-Kamboja mungkin akan segera memudar seiring dengan beralihnya pembicaraan yang lebih luas ke arah penegakan peraturan digital dan pemberantasan kejahatan dunia maya, yang kini menjadi isu yang jauh lebih mendesak secara global.
Ketika kedua belah pihak terus menavigasi situasi diplomatik yang rumit ini, perdebatan mengenai penipuan online dapat menjadi faktor kunci dalam membentuk kembali dialog antara kedua negara, dan sikap Thailand semakin mendapat perhatian di panggung internasional.




