Ribuan orang mengungsi setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah timur Pulau Flores.
NTT, Suarathailand- Tim penyelamat menyisir reruntuhan untuk mencari korban selamat pada hari Sabtu setelah gempa bumi dahsyat mengguncang wilayah lepas pantai Pulau Flores di Indonesia bagian timur, menewaskan sedikitnya 20 orang dan menyebabkan ribuan warga mengungsi.

Seiring terungkapnya skala penuh bencana tersebut, pejabat penyelamat Fathur Rahman mengatakan kepada AFP bahwa setidaknya 20 orang dipastikan tewas dari empat kota berbeda di pulau yang menjadi tujuan wisata populer itu.
"Berdasarkan laporan yang kami terima, 20 orang meninggal dunia, enam orang terluka, dan dua orang masih tertimbun," ujar Fathur melalui sambungan telepon saat berada di atas perahu dalam perjalanan menuju Kabupaten Nagekeo, wilayah yang paling parah terdampak.
Dua orang diketahui masih terjebak dalam keadaan hidup di bawah reruntuhan di wilayah tetangga, Kabupaten Manggarai, setelah guncangan berkekuatan magnitudo 7,7 terjadi.
"Fokus kami adalah menemukan korban yang tertimbun reruntuhan," kata Fathur, seraya menambahkan bahwa upaya penyelamatan terkendala oleh tanah longsor yang memutus akses sejumlah jalan.
Warga di Nagekeo, wilayah yang paling dekat dengan pusat gempa, bergegas menuju tempat yang lebih tinggi saat air laut surut pada Sabtu pagi—yang bisa menjadi pertanda datangnya tsunami—seperti disaksikan oleh wartawan AFP.
Peringatan tsunami kemudian dicabut, namun warga diimbau untuk tidak kembali ke bangunan yang rusak karena khawatir gempa susulan dapat meruntuhkannya.
Puluhan gempa susulan telah terjadi, dengan gempa terkuat tercatat berkekuatan magnitudo 6,1.
Keluarga Selamat
Yohanes Babo (56), warga Nagekeo, mengatakan bahwa ia sedang berada di pasar ketika bumi mulai berguncang pada dini hari.
"Guncangannya sangat kuat. Syukurlah, kami sudah berada di luar rumah," ujarnya kepada AFP.
"Orang-orang panik dan berlarian ke sana kemari. Untuk sementara kami mengungsi... dan berusaha menuju ke perbukitan," katanya, seraya menambahkan: "Keluarga saya selamat. Tidak ada yang terluka."
Pusat gempa dangkal tersebut terletak tepat di lepas pantai utara pulau itu, sekitar 68 kilometer di barat laut kota pesisir Ende, menurut keterangan otoritas Amerika Serikat dan Indonesia. Tim penyelamat mengevakuasi satu jenazah dari reruntuhan bangunan yang sebagian ambruk di pelabuhan Maumere.
Fathur mengatakan dua orang berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup dari reruntuhan dan "satu orang ditemukan meninggal dunia", menurut rekaman video yang dirilis oleh badan tersebut.
Besarnya dampak kerusakan masih terus didata.
Lukas Lotar, seorang warga Maumere—kota yang terletak sekitar 2.500 kilometer di sebelah timur Jakarta—menceritakan bagaimana bumi "tiba-tiba mulai berguncang dan saya panik".
"Pasien juga berlarian keluar rumah sakit; guncangannya sangat kuat. Saya melihat beberapa dinding retak," ujar Lotar, seorang petugas layanan pelanggan rumah sakit, kepada AFP.
Wilayah yang terdampak sebagian besar terdiri dari kota dan desa, dengan sedikit atau bahkan tanpa gedung pencakar langit.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia awalnya mengeluarkan peringatan kemungkinan adanya gelombang tsunami setelah gempa dan mengimbau warga untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Antrean panjang warga terlihat saat mereka meninggalkan kota dengan berjalan kaki, menggunakan sepeda motor, maupun mobil; sebagian bahkan berdesakan di bak belakang truk pikap.
"Kami telah mencabut (peringatan tsunami) namun akan terus memantau permukaan laut," kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto—yang seperti banyak orang Indonesia lainnya, hanya menggunakan satu nama.
Indonesia dan negara-negara tetangganya sering mengalami gempa bumi karena lokasinya yang berada di "Cincin Api" Pasifik—sebuah busur aktivitas seismik intens yang membentang dari Jepang, melintasi Asia Tenggara, hingga ke seluruh cekungan Pasifik.
Pulau Flores pernah diguncang gempa berkekuatan magnitudo 7,7 pada tahun 1992, yang memicu tsunami dan menewaskan sekitar 2.500 orang.
Salah satu gempa mematikan dalam sejarah Indonesia adalah gempa dahsyat berkekuatan magnitudo 9,1 pada tahun 2004 yang terjadi di lepas pantai Sumatra dan memicu tsunami yang menewaskan 220.000 orang di seluruh kawasan tersebut; sekitar 170.000 di antaranya tewas di Indonesia.
Tragedi yang terjadi tepat setelah perayaan Natal (Boxing Day) itu merupakan salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah yang tercatat.
Pada tahun 2018, gempa kuat mengguncang Pulau Lombok dan diikuti oleh beberapa gempa susulan selama beberapa minggu berikutnya, menewaskan lebih dari 550 orang di pulau wisata tersebut serta di Pulau Sumbawa yang bertetangga.
Pada tahun yang sama, gempa berkekuatan magnitudo 7,5 dan tsunami susulan di Palu, Pulau Sulawesi, menyebabkan lebih dari 4.300 orang tewas atau hilang.
Tsunami Terdeteksi di Sejumlah Wilayah
Gempa kuat tersebut juga memicu perubahan permukaan laut. BMKG mengonfirmasi adanya tsunami berdasarkan data dari alat pemantau yang terpasang di sejumlah lokasi.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastama mengatakan hasil pengukuran menunjukkan tinggi gelombang tsunami bervariasi di sejumlah wilayah. Namun, gelombang tersebut tidak terlalu terlihat secara kasat mata di sebagian besar lokasi.
"Jadi ini hanya deteksi peralatan kami yang ada di sana. Jadi memang ada peningkatan permukaan air laut setinggi tersebut yang tadi saya sebut," jelasnya.
Berdasarkan pengukuran BMKG, tinggi tsunami tercatat antara lain 0,14 meter di Bakalang Alor, 0,30 meter di Baubau, 0,54 meter di Bulukumba, 0,17 meter di Dompu, 0,25 meter di Flores Timur, 0,23 meter di Kolaka, 0,36 meter di Labuan Bajo, 0,94 meter di Maurole, 0,38 meter di Kemah Pantai, dan 0,19 meter di Sikka.
Dengan demikian, Maurole mencatat tinggi tsunami terbesar dalam data pengukuran tersebut, yakni 0,94 meter.




