Selama empat tahun terakhir, Myanmar menghadapi konflik yang semakin meningkat yang berdampak serius pada anak-anak.
Myanmar, Suarathailand- Myanmar termasuk negara dengan jumlah anak yang paling tidak divaksinasi, karena lebih dari 1 juta anak tidak mendapatkan imunisasi penting, demikian laporan UNICEF Myanmar.
Informasi tersebut dimuat dalam laporan UNICEF Myanmar, Preventing a Lost Generation, menyoroti dampak konflik dan ketidakstabilan yang meningkat terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak-anak di Myanmar.
Selama empat tahun terakhir, Myanmar menghadapi konflik yang semakin meningkat yang berdampak serius pada anak-anak.
Kekerasan, pengungsian, dan runtuhnya layanan penting seperti perawatan kesehatan dan pendidikan telah menempatkan kelangsungan hidup dan kesejahteraan anak-anak pada risiko besar, kata UNICEF Myanmar.
Satu dari tiga orang terlantar di Myanmar adalah anak-anak, banyak di antaranya harus meninggalkan rumah mereka dan kini menghadapi masa depan yang tidak pasti.
Pada tahun 2024 saja, 750 anak telah terbunuh atau terluka akibat konflik, dan jumlahnya terus meningkat.
Runtuhnya layanan dasar yang hampir total telah menempatkan keluarga dan anak-anak dalam bahaya yang ekstrem. Sistem layanan kesehatan publik, yang sudah melemah akibat pandemi Covid-19, semakin terpuruk akibat konflik yang terus berlanjut, ketidakamanan, dan eksodus massal tenaga kesehatan. Akibatnya, banyak anak tidak dapat memperoleh perawatan medis yang penting.
Myanmar kini berada di peringkat teratas negara dengan jumlah anak yang tidak divaksinasi tertinggi, sehingga mereka rentan terhadap penyakit yang mengancam jiwa, demikian peringatan UNICEF Myanmar.
Selain krisis layanan kesehatan, hampir lima juta anak di Myanmar tidak memperoleh pendidikan. Banyak yang menghadapi risiko ekstrem seperti perekrutan paksa oleh kelompok bersenjata, pekerja anak, pernikahan dini dan paksa, dan bahkan eksekusi.
Ketidakamanan pangan dan kekurangan gizi juga telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, dengan 55% anak-anak Myanmar hidup dalam kemiskinan. Selain itu, bencana alam, termasuk badai hebat dan musim hujan tahunan, telah memperburuk kesulitan hidup anak-anak.
Pada tahun 2024, Siklon Mocha memengaruhi lebih dari 300.000 anak dan menghancurkan banyak sekolah. Kamp-kamp pengungsian yang penuh sesak dan masyarakat yang rentan juga mengalami wabah penyakit parah yang ditularkan melalui air. Dampak-dampak ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun 2025, menurut laporan UNICEF Myanmar.




