BPS mencatat total jumlah penduduk miskin di Indonesia per Maret 2022 sebanyak 26,16 juta orang.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono jumlah penduduk miskin secara nasional menurun per Maret 2022. BPS menilai enurunan kemiskinan ini sebagai dampak dari pemulihan ekonomi nasional yang masih terus berlanjut.
BPS mencatat garis kemiskinan pada Maret 2022 sebesar Rp 505.469 per kapita per bulan. Itu mengalami kenaikan 3,97 persen. Peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan komoditas bukan makanan.
Dengan tingkat garis kemiskinan itu, BPS mencatat, total jumlah penduduk miskin per Maret 2022 sebanyak 26,16 juta orang. Angka itu mengalami penurunan sekitar 340 ribu orang dari posisi September 2021 lalu dan turun 1,38 juta orang jika dibandingkan Maret 2021 lalu.
"Persentase penduduk miskin sebesar 9,54 persen, turun 0,17 persen poin dari September 2021 atau 0,6 persen poin terhadap Maret tahun lalu," kata Margo dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.
Lebih lanjut, Margo memaparkan, penurunan kemiskinan terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan. Tingkat kemiskinan di kota pada Maret lalu sebesar 7,5 persen, atau turun dari posisi September 2021 yang sebesar 7,6 persen. Adapun di perdesaan, tingat kemiskinan mencapai 12,29 persen, turun dari sebelumnya 12,53 persen.
Meski begitu, Margo menuturkan, disparitas alias ketimpangan kemiskinan antara perkotaan dan perdesaan masih tinggi. Namun, sejauh ini BPS menilai kecepatan penurunan kemiskinan di perdesaan lebih cepat dari perkotan.
"Tingkat kemiskinan di perdesaan sudah kembali ke level sebelum pandemi, sedangkan di perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi," kata Margo.
Sementara itu, kedalaman dan keparahan kemiskinan juga tercatat menurun. Rara-rata Indeks Kedalamam Kemiskinan (P1) di perkotaan maupun perdesaan pada Maret 2021 tercatat 1,586 poin turun dari posisi September 2021 sebesar 1,668 poin.
Sementara itu Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) tercatat 0,401 poin, lebih rendah dari sebelumnya 0,418 poin.
Margo juga mengungkapkan, tingkat gini ratio per Maret 2022 mencapai 0,384 poin, naik dari posisi September 2021 sebesar 0,381 poin. Semakin tinggi nilai gini ratio maka semakin tinggi pula ketimpangan yang terjadi antar penduduk.
"Kemiskinan memang menurun dan terjadi di seluruh pulau, namun gini ratio menunjukkan arah berbeda," kata Margo. (bps, antara)




