Hotel-hotel Thailand mendesak pemeriksaan ketat mpox di tengah kekhawatiran pariwisata dan ekonomi.
Asosiasi Hotel Thailand telah mendesak Kementerian Kesehatan Masyarakat untuk menerapkan langkah-langkah pemeriksaan ketat bagi pasien mpox guna mencegah potensi gangguan pada industri pariwisata.
Thienprasit Chaiyapatranun, presiden asosiasi, mengatakan industri perhotelan khawatir setelah Thailand melaporkan kasus pertama varian yang lebih parah dari virus mpox klade 1B yang sangat menular.
Dia mengatakan virus tersebut dapat ditularkan melalui batuk dan bersin serta melalui kontak dengan cairan tubuh pasien, lesi kulit, atau peralatan bekas pakai.

Thienprasit mengatakan Kementerian Kesehatan Masyarakat dan lembaga terkait lainnya harus segera mengambil tindakan untuk menahan penyebaran virus, seperti mendirikan pos pemeriksaan di bandara untuk memeriksa pelancong, terutama mereka yang datang dari Afrika, tempat penyakit tersebut lebih umum terjadi.
Meskipun ada ketakutan akan mpox, Thienprasit tetap optimistis tentang musim ramai yang akan datang, yang berlangsung dari kuartal keempat tahun ini hingga kuartal pertama tahun depan. Namun, ia mengatakan khawatir dengan konflik global yang sedang berlangsung, yang dapat memengaruhi ekonomi dan pariwisata global tahun depan.
Ia juga menyebutkan rumor bahwa wisatawan Tiongkok yang ingin bepergian ke luar negeri menghadapi kesulitan dalam memperoleh paspor karena kebijakan Beijing untuk mempromosikan pariwisata domestik.
Meskipun demikian, ia memperkirakan kedatangan wisatawan asing akan mencapai 36,7 juta tahun ini, sesuai dengan target pemerintah. Namun, ia memperingatkan bahwa penurunan belanja pariwisata dapat menghambat upaya untuk menghasilkan pendapatan pariwisata yang diproyeksikan sebesar 3,5 miliar baht (Rp1,6 triliun).
Menurut Kementerian Pariwisata dan Olahraga, Thailand menyambut 22,47 juta orang dari 1 Januari hingga 18 Agustus, yang menyumbang sekitar 1,05 triliun baht dalam pendapatan pariwisata. Jumlah kedatangan tertinggi berasal dari Tiongkok (4,55 juta), Malaysia (3,10 juta), India (1,29 juta), Korea Selatan (1,19 juta) dan Rusia (1,05 juta).




