Covid-19 BA.2.75 memiliki kemampuan infeksi dan penularan yang jauh lebih cepat.
Ahli Epidemiologi Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan Indonesia tidak terlepas dari ancaman subvarian Omicron BA.2.75, utamanya untuk kelompok berisiko tinggi.
Dicky menilai ancaman subvarian Omicron BA.2.75 jelas muncul karena beberapa alasan. Pertama, tingginya interaksi masyarakat. Kedua, tingginya perjalanan yang dilakoni masyarakat.
Hal tersebut membuat subvarian BA.2.75 jadi lebih cepat menular dan menjangkiti masyarakat.
Dicky menuturkan, ancaman semakin nyata lantaran minimnya pelacakan dan pemeriksaan (tracing and testing) di Indonesia. Selain itu, cakupan vaksinasi dosis ketiga (booster) juga terbilang rendah.
"Sebagian dari kita memang mengalami penurunan dalam hal proteksi atau imunitas. Setelah mungkin dua dosis sudah (diterima) berapa lama, kemudian belum sempat dibooster," tutur Dicky.
Dicky menjelaskan berbeda dari varian sebelumnya, BA.2.75 memiliki kemampuan infeksi dan penularan yang jauh lebih cepat. Pertumbuhan virus pun jauh lebih cepat dibanding BA.4 dan BA.5.
Fenomena cepatnya penularan ini tampak di India. Di negara tersebut, virus sudah berkembang pada Juni setelah terdeteksi masuk di bulan Mei 2022.
Di samping itu, varian BA.2.75 mampu menginfeksi ulang (reinfeksi) orang yang sudah pernah terinfeksi Covid-19 dan orang yang sudah mendapat vaksin dosis ketiga (booster). (kompas)




